Tentang bakat yang dibina dan yang tidak
Seperti manusia pada umumnya, pikiran saya terus berjalan berputar-putar walau tubuh sedang mengarahkan motor dalam perjalanan ke arah pulang. Dalam salah satu pikiran sesaat itu, saya teringat tentang teman masa kecil yang dulu pandai bernyanyi. Saya tidak pernah bertemu dengannya lagi dan tidak tahu kabarnya. Tapi satu hal yang saya yakin dan pasti, bahwa dia tidak jadi penyanyi. Padahal dalam ingatan yang masih kuat ini, setahu saya suaranya sangat merdu dan mungkin cocok untuk bersaing di ajang pencarian bakat seperti Idola Cilik.
Lalu, pikiran saya berlanjut. Kira-kira, kenapa dia tidak jadi penyanyi? Saya teringat lebih banyak orang lagi, yang menurut saya punya bakat tertentu, tapi tidak menjadi orang yang terkenal akan bakatnya itu. Pikiran saya terus berlanjut, kira-kira, berapa banyak orang di Indonesia yang seperti itu? Harusnya, banyak sekali. Orang-orang berbakat harusnya banyak, dan bakat-bakat yang tidak terpenuhi potensinya itu juga banyak. Sayang sekali. Kira-kira, kenapa?
— — —

Sumber: chessdailynews.com
Saat sedang mengikut berita turnamen catur dunia (World Rapid & Blitz Championship, tepatnya), entah bagaimana saya kemudian sampai mencari tahu soal Judit Polgar dan Susan Polgar. Dua bersaudara ini dianggap sebagai dua pecatur perempuan terbaik sepanjang sejarah. Hal yang baru saya sadari bahwa mereka punya satu saudara lagi yang juga pecatur perempuan hebat, Sofia Polgar dengan gelar International Master (di bawah Grandmaster, gelar Judit dan Susan). Saya heran, kok bisa ada tiga bersaudara dengan bakat yang sama dan benar-benar merealisasikan bakat itu?
“Geniuses are made, not born”
Frasa yang tentu bisa diperdebatkan, namun Laszlo Polgar, sang ayah dari tiga bersaudara percaya itu. Berdasar kepercayaannya, dia melakukan “eksperimen” pada ketiga anaknya. Menurut hal-hal yang dia pelajari saat membaca kisah orang-orang jenius, dia menyadari bahwa para jenius selalu memulai “hidup” mereka pada usia muda, sangat muda. Karena itu, dia mulai mengajari banyak hal pada ketiga anaknya sedari kecil, salah satunya adalah catur.
“with a simple premise: that any child has the innate capacity to become a genius in any chosen field, as long as education starts before their third birthday and they begin to specialize at six.” kata Laszlo.
— — —
Mungkin frasa bahwa jenius tidak dilahirkan tapi diciptakan bisa selalu diperdebatkan. Tapi yang kita tahu dari cerita keluarga Polgar, bahwa “geniuses are nurtured”. Bahwa, bakat apa pun yang dipunyai seorang anak, tidak akan ada artinya jika tidak dijaga dan dibina untuk memenuhi potensi dari bakat itu.
Polgar berhasil membina anak-anaknya memenuhi bakat mereka. Dan banyak orang tidak dapat memenuhi bakat mereka, karena tidak mendapatkan pembinaan yang baik. Hal yang disayangkan, menurut saya. Tapi tentu tidak bisa disalahkan.
Harusnya memang, setiap bakat dapat diberi kesempatan untuk berkembang melalui pembinaan. Ah, tapi bagaimana bisa para orang tua membina bakat anak-anak mereka saat fokusnya terbagi, antara membuat keluarganya bisa makan dan bertahan hidup, atau membina bakat anaknya. Di negeri ini, cari makan saja susah. Kubur saja bakat itu!
Comments (0)
Belum ada komentar. Mari aja lah kalau mau komeng, aku sule.
Balas komentar