Jatuh Cinta Itu Gampang! (Cerita Pendek Sekali)
Jangan tanya bagaimana caraku bisa jatuh cinta kepadamu. Sumpah, jatuh cinta saja sudah gampang, apalagi jika orangnya kamu.
Kamu bisa bertanya kepada setiap lelaki yang pernah lewat dalam hidupmu—jika kamu berani—apakah rasa cinta mungkin lahir hanya berdasar keberadaanmu saja? Seolah selalu terundang hanya dengan kamu ada. Kamu mungkin hanya tidak sadar, tapi undangan itu selalu tampak nyata. Aku hanya tak pandai mendeskripsikan rupa undangan itu lewat kata-kata cantik dan elitis seperti para penulis novel cinta mainstream.
Tapi lakukanlah ini: berdirilah di depan cermin, lalu katakan padaku setelahnya, apakah kau tidak jatuh cinta kepada dirimu sendiri? Maksudku, lihatlah bagaimana bibirmu membentuk senyum ramah yang kau lemparkan setiap pagi kepada orang-orang. Lihatlah bagaimana sorot matamu menggambarkan kehangatanmu, tatapan yang dengan sendirinya menunjukkan bahwa kau adalah orang yang tenang.
Itu baru tentang rupamu di depan cermin.
Sudikah kau kuberitahu bahwa kau mungkin satu-satunya perempuan yang pernah kucintai—dan kepadamu, perasaan itu masih ada sampai saat ini—bukan hanya karena betapa menawannya kau di hadapan cermin, namun lebih karena tajam caramu berpikir membuatmu terlihat secerdasnya perempuan hampir di setiap interaksi, hangat kehadiranmu terasa bagi orang-orang, lembutnya kau kepada orang-orang tua yang kau temui, atau seringnya bibirmu membentuk senyum dalam keseharianmu, yang menurutku selalu terlihat menyenangkan hanya karena kamulah yang menjalaninya?
Ah, kau membuat caraku bercerita jadi runyam, seolah hanya mengetikkan kata-kata asal yang tiba-tiba berputar di kepala.
Bagaimana, ya, menyampaikannya dengan kata-kata indah? Sederhananya, kau keren. Kurasa, satu-satunya kali aku pernah jatuh kepada seorang perempuan hanya karena ia keren adalah kepadamu.
Kau keren. Kata yang kucari selama ini untuk melakukan deskripsi lengkap tentangmu ternyata cukup sederhana.
Aku jatuh cinta pada caramu menjalani hidup.
Kalau suatu waktu aku punya kesempatan untuk meneriaki seisi dunia, akan kupekikkan dengan lantang: kau keren, dan karena itu aku mencintaimu.
Comments (0)
Belum ada komentar. Mari aja lah kalau mau komeng, aku sule.
Balas komentar