Ingin (Cerita Pendek Sekali)
Rasa-rasanya sudah tiga bulan aku kesulitan tidur malam. Bahkan, kuyakin jumlah jari tangan kananku lebih banyak daripada jumlah malam ketika aku benar-benar tidur dengan baik.
Bukan karena aku sengaja ingin terbiasa, tapi rasa-rasanya tubuhku memutuskan untuk lebih aktif pada malam hari. Mungkin seperti pendengaran yang terasa semakin tajam saat gelap, ketika mata tidak lagi terlalu bisa diandalkan dan telinga mengambil lebih banyak peran untuk melindungi diri. Mungkin seperti itu. Dadaku terasa lebih aktif, mungkin juga karena kopi yang kukonsumsi dan pikiranku yang menolak mati sesaat.
Dua hari lalu aku berusaha memperbaiki waktu tidurku. Sebenarnya, setiap malam selalu kuusahakan. Tapi yang ini lumayan berhasil. Selama dua malam, aku berhasil mati sesaat barang tiga atau empat jam setiap malam.
Sayangnya, malam ini pikiranku kembali mengambil alih tubuhku yang sudah separuh lunglai, lemas karena seharusnya sudah beristirahat. Otakku kembali memunculkan mimpi-mimpi tentang masa depan.
Yang kulakukan hanya melamun, sambil merasa sedikit sedih karena betapa jauhnya aku dari masa depan yang kuinginkan. Masa depan yang selalu kukejar setiap hari, tetapi semakin hari justru kurasa semakin sulit terkejar.
Apakah aku bisa berumur panjang? Dengan siapa aku akan menghabiskan umurku pada hari-hari yang masih jauh itu? Berapa perempuan lagi yang akan kutemui hanya sesaat, tetapi tidak selamanya? Apakah nanti ada anak kecil, selain keponakan-keponakanku, yang menyakiti kupingku dengan tangisnya? Seberapa leluasa aku bisa memesan makanan di kafe yang kukunjungi bersama keluarga tanpa harus terlalu lama memikirkan harganya?
Rasanya, aku ingin hidup selamanya. Kalau tidak selamanya, paling tidak seribu dua ribu tahun.
Aku suka membayangkan masa depan. Tapi aku benci menjalani masa kini karena terlalu sibuk mengutuk masa lalu.
Comments (0)
Belum ada komentar. Mari aja lah kalau mau komeng, aku sule.
Balas komentar