Kembali ke Tulisan
blog

Hidup Mati dan Kesehatan Mental

In the past few months, I’ve been struggling with my mental health. It has been the worst, and also the best moments in my life. I’ve done everything to recover, I’m still doing it, and I will still do whatever it takes just to recover.

Beberapa orang mungkin menganggap mental health adalah masalah yang sepele. Namun, beberapa tetap peduli dan siap membantu. For you guys, yang sedang bermasalah dengan mental health, jangan ragu untuk meminta bantuan. There will always be someone yang siap membantu kamu. Kamu hanya perlu mencarinya, dan pasti kamu temukan. Jangan kehilangan harapan.

Kalau kamu merasa segala usaha yang kamu lakukan hanya menghasilkan kegagalan, saya mungkin hanya bisa bilang:

”You’ve done your best, you are doing your best, and you will always do your best.”

Iya, sedih saja, tapi jangan terlalu lama. Kecewa saja, tapi jangan berlebih. Saat berusaha, mungkin tak sebaiknya kamu memikirkan hasil yang instan, yang tahu-tahu saja sudah selesai.


Saya selalu kecewa saat usaha yang saya lakukan untuk sembuh, tidak berhasil. Rasa kecewa itu justru menambah masalah bagi mental saya. And it is not good, is it? Dari situ, saya mengambil pelajaran. Saya harus membuang jauh-jauh ekspektasi instan dalam pikiran, dan lebih menikmati segala perubahan, perkembangan yang saya alami, sekecil apa pun itu.

Seperti yang saya katakan di kalimat pembuka, masalah mental ini merupakan momen terburuk sekaligus terbaik dalam hidup saya sejauh ini.

Yang buruk adalah, masalah mental sangat-sangat mengganggu. Sayang saya tidak punya perbendaharaan kata yang baik untuk menggambarkan masalah ini dengan cukup singkat. Hanya saja yang pasti, masalah mental seakan menjadi sekat pembatas tak terlihat yang mengurung diri kita. Tidak nyata, sekaligus nyata.

Yang baik? Banyak. Saya mulai menyadari kesalahan-kesalahan saya, mulai memahami diri saya, dan mulai berbenah memperbaiki diri.

Bermasalah dengan mental membuat saya lebih banyak menghabiskan waktu sendiri. Diam, tidak melakukan apa-apa, namun pikiran hanyut tak tahu arah. Di waktu-waktu itulah, saya banyak merenung.

Selama beberapa bulan ini juga, saya sudah beberapa kali mengunjungi psikiater, dan mengonsumsi obat yang diberikan. Tahu tidak? Saya sangat terkejut melihat banyaknya pasien yang harus dilayani oleh sang psikiater.

Iya, pikiran awal saya, masalah mental adalah hal yang tabu dan memalukan. Seharusnya saya tak perlu antre lama-lama saat ke psikiater. Ternyata tidak. Saya yang selama ini merasa peduli terhadap mental health, sangat salah menduga. Antriean selalu penuh, dari berbagai kalangan. Baik masyarakat kalangan menengah ke bawah, maupun yang bernasib lebih baik. Ada juga yang datang jauh-jauh dari desa-desa kecil, dan dari luar kota. Semua datang untuk tujuan yang sama, sembuh.

Mungkin tidak etis jika saya merasa senang karena banyak orang yang sakit dan mengantre ke dokter. Tapi kali itu saya benar-benar senang. Saya tidak sendiri!

Saya belajar banyak dari mereka. Selama mengantre, saya banyak mendengar cerita-cerita tentang masalah yang mereka alami. Semakin membuat saya berpikir, seharusnya masalah mental lebih mendapat perhatian dari masyarakat. Masalah mental harus menjadi hal yang tidak tabu. Karena semua orang, baik saya maupun kamu, berpotensi mengalaminya. Tidak harus masalah mental yang berat, bahkan stres ringan pun, kamu tak harus malu untuk pergi ke psikolog atau psikiater. Layaknya orang yang sakit demam lalu pergi meminta obat ke dokter, bukan?

Meskipun masalah mental sangat mengganggu saya, namun itu juga yang menjadi pemacu untuk tetap bergerak, belajar, dan berkarya. Saya tak mau diam memaku. Justru selama beberapa bulan inilah, saya belajar lebih banyak hal yang sangat berguna bagi hidup saya ke depannya. Dengan sekat tak terlihat itu, saya tetap berusaha untuk melawan.

Hari-hari saya lewati dengan belajar, berkarya, dan merenung (karena depresi). Iya, selalu begitu setiap hari. Setidaknya masa-masa depresi saya diselingi dengan hal yang produktif. Hasilnya, saya berhasil membuat beberapa karya, juga mendapat berbagai macam tawaran kerja sama. I also got my first job, as a Content Writer! Bagi saya, itu sangat menyenangkan, walaupun sekali lagi, bagi orang lain mungkin terlihat sepele. Hal-hal itulah yang membuat saya bersemangat setiap harinya untuk terbebas dari masalah yang saya alami.


“I want to die, but I want to eat tteokpokki!”

Seperti judul buku dari Baek Se-Hee di atas. Saya benar-benar merasa ingin mati, namun saya juga masih ingin merasakan indahnya hidup! Saya masih punya tujuan, jadi untuk apa saya berhenti berjalan dan menyerah?

Maaf saya harus mengulang ini. I’ve done everything to recover, I’m doing everything to recover, and I will always do everything, whatever it takes to recover. Saya menolak menyerah. Karena saya, masih punya tujuan.


Comments (0)

Belum ada komentar. Mari aja lah kalau mau komeng, aku sule.

Balas komentar