Cincin (Cerita Pendek Sekali)
Image by Lia Bekyan, unsplash.com
Tadi siang sehabis zuhur, salah satu temanku mengunggah instagram story, yang langsung kutonton saat itu juga. Video makeup seperti biasa, tapi yang membuat tatapanku lebih lama adalah cincin yang melingkar rapi di jari manisnya seolah seisi video memang hanya untuk menunjukkan cantiknya rangkaian jari yang terpasang satu cincin. Memang saat itu aku sengaja membuka ponsel hanya untuk mengalirkan waktu sedikit lebih cepat, tapi satu unggahan itu malah seperti menahan perginya waktu.
"Wah, sudah dilamarkah?", ingin kukirimkan pesan penasaran tapi kuurungkan. Aku juga tidak begitu tahu apa makna cincin-cincin yang terpasang di setiap jari orang-orang saat belum menikah. Kalaupun sudah dilamar, sepertinya tidak begitu ada urusannya denganku, pikirku. Karena perasaan yang pernah kusimpan untuknya sudah lama kubuang, kukubur dalam-dalam, kuinjak-injak agar tidak ada bekasnya. Saat ini kurasa perasaannya benar sudah lenyap. Walau gantinya adalah sesal karena tidak pernah tersampaikan.
Teman kuliahku dulu di Jogja. Sudah berteman sejak semester pertama walau hampir tidak pernah masuk ke kelas yang sama. Urusan pertama yang membuatku tahu lebih dari sekadar namanya adalah menjadi teman setim untuk ikut lomba. Temanku yang lain yang mengajak. Kuliah kami saat itu masih online, maklum ada virus nakal yang sok-sokan jadi pengatur dunia pada saat itu, jadi kami bertemu lewat Discord saja untuk membicarakan proposal lomba lalu menghabiskan malam itu cukup larut untuk mengobrol bertiga. Beberapa waktu kemudian kami bertemu langsung saat menjadi panitia acara himpunan mahasiswa. Sejak itu, kami makin dekat. Aku bahkan secara langsung mengajaknya masuk ke komunitas dan tempat kerja yang sama denganku di kampus. Aku mengandalkannya, dan kurasa dia juga mengandalkanku dalam setiap hal yang kami kerjakan bersama. Aku menikmati waktu-waktu kami bertukar pikiran, begitu menyenangkan rasanya. Candaan-candaan yang selalu terselip juga hangat, membuatku mengingikan candaan itu jadi pelengkap sehari-hariku. Kami berinteraksi semakin sering, bertemu hampir setiap waktu, menjadi rekanan diskusi dan teman bercerita yang baik.
Tidak, walaupun hari-hariku di kampus kuhabiskan untuk berinteraksi dengannya nyaris setiap waktu yang bisa kuingat, aku tidak pernah terpikir untuk memunculkan rasa suka. Dia temanku, teman yang penting, berharap hubungan yang lebih hanya akan mengacaukan situasi yang ada. Aku juga tidak begitu suka punya hubungan spesial dengan seorang teman, ya walaupun belum tentu juga dia akan mau denganku jika aku suka padanya. Sampai terlalu lama waktu kuhabiskan dengannya, aku sadar bahwa aku pun laki-laki yang secara wajar pasti akan jatuh cinta pada perempuan.
Beberapa kali cerita soal tipe laki-laki yang diinginkannya didongengkan padaku, bahkan kerap bercanda denganku untuk memilihkan laki-laki yang sesuai dengan tipenya itu, dipilihkan untuknya di antara teman-teman kami di program studi. Sebaliknya, dia sudah khatam betul dengan cerita hubungan-hubunganku yang gagal. Satu waktu dia kembali bercerita topik yang sama, tentang laki-laki yang dia inginkan. Saat itu, untuk pertama kali ada rasa cemburu yang muncul secara sederhana seolah alamiah.
Semakin dia bercerita, selayaknya laki-laki yang baru saja sadar bahwa dia menyukai seorang perempuan, pikiran aneh menyalah-nyalahkan diri sendiri mulai muncul; kenapa dari sekian nama laki-laki yang disuarakan, tidak pernah ada namaku?
Akulah laki-laki yang paling memenuhi standar pria idaman baginya, bukankah harusnya begitu jika dia mau memikirkan lagi kriterianya sambil melihatku yang ada di hadapannya hampir setiap hari?
Aku tidak tahu pikiran itu muncul karena aku sedang terlalu menyukainya atau aku saja yang baru sadar bahwa selama ini tipe laki-laki yang dia bicarakan sebenarnya sesuai denganku dan memang aku. Terlalu samar, sampai terlalu dipikirkan berhari-hari.
Apakah selama ini pembicaraan-pembicaraan itu memang kode rahasia darinya yang dia minta untuk aku pecahkan? Ditambah lagi, baru-baru saja aku mendapat pesan anonim dari seseorang di aplikasi ngl.link. Pesan itu sampai saat ini masih kuanggap sebagai salah satu pesan paling menyenangkan yang pernah kuterima. Pesan itu kupasang di layar depan ponsel untuk dibaca setiap pagi sebelum pergi keluar kamar, setiap malam sebelum tidur, dan tiap-tiap waktu lainnya jika aku merasa aku butuh membaca pesan itu. Di pesan itu, dia—atau si pengirim yang masih samar—bilang tidak pernah menemui laki-laki sepertiku yang benar-benar tahu apa yang kuinginkan dan yang harus kulakukan. Pesannya panjang seolah ditulis dengan niat, dengan perasaan!
Pesan kagum itu kuperlihatkan padanya saat bertemu dan aku sedikit lupa apakah dia benar-benar mengonfirmasi bahwa benar berasal darinya, atau hanya reaksi samar yang kutangkap sebagai tanda konfirmasi.
Konyol memang, walau konfirmasinya samar aku sudah berani memasang pesan itu di layar ponsel. Pikirku, biarpun kenyataan datang bahwa bukan dia yang mengirim, tetap akan kupasang karena isi pesannya terlalu bagus sampai terlalu sering jadi juru selamatku saat genting.
Yang jelas saat itu aku begitu melayang dibuat asumsiku sendiri. Bahkan aku mulai merinci apa-apa saja yang kuinginkan dari seorang perempuan dan dia benar-benar punya semua itu. Mungkin dia memang memenuhi kriteria itu sedari dulu, tapi bisa jadi alam bawah sadarku saja yang mengarahkan detail-detail tentang perempuan yang kusukai sampai-sampai bisamenyerupainya. Aku menyukainya, kucingku bahkan kunamai Tika—dari plesetan namanya walau kubilang itu dari mata pelajaran yang kusuka, matematika. Lagi-lagi kubilang dalam hati, jika nanti tidak benar-benar bersama, kucingku tetap bisa kusayang karena aku memang suka matematika.
-
"Sepertinya dia benar menyukaiku", pikirku untuk beberapa waktu.
Jangan bilang aku terlalu terjebak dalam asumsiku sendiri. Di saat-saat itu aku sedang berpikir keras bagaimana bisa mendekatinya untuk menjadi lebih dari teman dan menghitung kemungkinan-kemungkinan liar yang bisa terjadi. Terlalu dipikirkan, sampai belakangan baru kutahu bahwa dia sedang dekat dengan temanku. Sama-sama satu lingkaran dengan kami. Tentu dia lalu cerita soal bagaimana mereka dekat. Aku pun tanpa sadar ternyata punya andil besar sampai mereka bisa berkenalan dan menjadi terlalu dekat.
-
Aku tidak ingin cerita lanjutan hubungan mereka yang sampai hari kutulis ini, masih berlanjut. Mungkin cincin yang kulihat melingkar indah di jari manisnya tadi siang memang pertanda hubungan mereka sudah sangat jauh, mungkin juga tidak. Banyak alasan yang bisa kugunakan untuk menenangkan diri atas niraksi yang kulakukan, atas ketidakberanian dalam mengakui rasa suka. Bisa jadi memang asumsiku terlalu dalam, tanpa konfirmasi, tenggelam dalam kebingungan sampai tidak punya daya berbuat sesuatu yang berarti untuk perasaanku.
Jelas perasaanku sudah hilang, anggap saja begitu. Sesal ini juga sedang kuusahakan untuk ikut hilang.
Comments (0)
Belum ada komentar. Mari aja lah kalau mau komeng, aku sule.
Balas komentar